Karakter asli penduduknya yang lembut dan mudah menerima kebenaran
manjadi salah satu faktor yang membantu penyebaran islam di Yaman. Oleh
sebab itu, dalam masa islam, pergolakan dan huru-hara di Yaman
terbilang kecil bila dibandingkan yang terjadi di negeri Irak, Iran,
Mesir, dan Syam.
Mengenai kedatangan Abu Musa Asy’ari beserta rombongan dari Yaman,
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, riwayat
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas merupakan
bentuk pujian untuk penduduk Yaman. Para ulama yang mensyarah hadits di
atas memang menyebutkan khilaf (perbedaan pandangan) tentang; apa yang
dimaksud dengan Yaman di dalam sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wa sallam ? Namun demikian, sebagian ulama mengakui bahwa karakter
penduduk Yaman di sepanjang sejarah Islam memang demikian.
NEGERI YAMAN, NEGERI ILMU
Di dalam peta rihlah thalabul ilmi (perjalanan suci dalam menuntut
ilmu syar’i), Yaman juga mengambil porsi yang cukup besar. Ulama yang
pernah muncul di dalam sejarah Yaman tidak terhitung jumlahnya. Shan’a
sebagai simbol Yaman adalah magnet yang menarik para pecinta ilmu untuk
berdatangan. Sebab pada waktu itu, Shan’a menjadi salah satu pusat
berkumpulnya para ahlul hadits.
Lebih-lebih lagi pada masa Al Imam Abdurrazaq bin Hammam Ash
Shan’ani (126-211). Sejumlah ulama besar Islam datang dari berbagai
penjuru dunia untuk menimba ilmu langsung kepada Abdurrazaq bin Hammam
di Yaman. Sufyan bin Uyainah, Al Mu’tamir bin Sulaiman, Ishaq bin
Rahuyah, Ali Ibnul Madini hanyalah contoh sekian banyak murid-murid
beliau. Sampai-sampai muncul istilah Laa Budda Min Shan’a Wa In Thalas
Safar (pokoknya harus sampai ke Shan’a, meski harus menempuh perjalanan
panjang).
Salah satu keajaiban thalabul ilmi yang termaktub di dalam sejarah
adalah kisah Al Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in yang hendak
berguru kepada Abdurrazaq bin Hammam.
Perjalanan beliau berdua dimulai dari Baghdad, ribuan kilo dari
Yaman. Sejak awal beliau berdua bertekad menimba ilmu dari Abdurrazaq di
Yaman. Berbagai negeri dilewati, panasnya siang dan dinginnya malam
bukanlah penghalang.
Mereka tiba di Makkah bertepatan dengan musim haji. Kesempatan untuk
berhaji pun tidak disia-siakan. Dalam sebuah kesempatan thawaf, Yahya
bin Ma’in berjumpa dengan Abdurrazaq bin Hammam. Ternyata, tahun itu
juga Abdurrazaq sedang menunaikan ibadah haji.
Setelah pertemuan itu, Yahya bin Ma’in segera mencari Imam Ahmad
untuk menyampaikan kabar gembira dan berita besar tentang keberadaan
Abdurrazaq bin Hammam yang sedang berhaji di Makkah.
“Sungguh! Allah telah mendekatkan langkah-langkah kaki kita. Allah
telah memudahkan kita untuk menghemat bekal perjalanan. Allah juga telah
membebaskan kita dari perjalanan sebulan penuh untuk menuju shan’a.
Lihatlah! Saat ini, Abdurrazaq sedang berada di Makkah. Marilah kita
mendengar riwayat-riwayat hadits dari dari Abdurrazaq di sini saja (di
Makkah)!” Ujar Yahya bin Ma’in.
Subhanallah!
Mendengar “kabar baik” semacam ini ternyata tidak membuat Imam Ahmad lantas menanggapi dan menyetujui.
Dengan mantap Imam Ahmad menjawab :
“Sesungguhnya, sejak masih di Baghdad, aku telah berniat untuk
mendengar riwayat hadits dari Abdurrazaq di Shan’a. Dan demi Allah, aku
tidak akan merubah niatku selama-lamanya.”
Ya! Imam Ahmad tetep memegang tekad untuk berguru kepada Abdurrazaq
di Yaman. Dan tekad beliau benar-benar terwujud. Kurang lebih sepuluh
bulan lamanya Imam Ahmad berada di Yaman dalam rangka rihlah thalabul
ilmi.
THALABUL ILMI DI YAMAN SAAT INI
Tiap-tiap generasi selalu saja bermunculan para ulama besar dari
negeri Yaman. Kaum muslimin tentu tidak asing lagi dengan nama harum Asy
Syaukani, Ash Shan’ani, Ibnul Wazir, dan Abdurrahman bin Yahya Al
Mu’allimi. Beberapa karya tulis yang menghimpun nama-nama ulama Yaman
juga sangat mudah didapatkan di perpustaan-perpustakaan Islam.
Di masa-masa terakhir ini nama besar
Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i sangat
akrab bagi kaum muslimin. Bisa dikatakan setiap warga Yaman pasti
pernah mendengar nama dan gerakan dakwah beliau. Murid-murid beliau yang
datang berguru bukanlah hanya dari dalam negeri, namun juga dari
mancanegara. Begitu banyaknya murid beliau hingga dinyatakan, “Tidak
pernah ada rihlah seramai ini di Yaman sejak zaman Abdurrazaq bin
Hammam.
Meskipun telah meninggal belasan tahun yang lalu, murid-murid senior
beliau tetap meneruskan estafet dakwah salaf yang berpondasikan di atas
Al Qur’an dan As Sunnah. Hari demi hari dakwah salaf semakin kuat dan
meluas. Tidak ada satu pun desa di Yaman –meski terpencil-, kecuali
dakwah salaf telah menghujam kuat di sana. Wajar saja jika dakwah salaf
dinilai oleh banyak pengamat sebagai dakwah mayoritas di Yaman.
Kelompok-kelompok sempalan Islam memang ada juga. Akan tetapi, watak
orang Yaman yang senang dengan al haq membuat kelompok-kelompok tersebut
seakan berjalan di tempat, bahkan semakin surut. Syi’ah, Sufi, Al
Qaeda, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan beberapa kelompok sesat
lainnya justru semakin melemah sejak dakwah salaf dihidupkan kembali
oleh Syaikh Muqbil dan murid-muridnya.
Jika anda sempat berkunjung ke Yaman dan menggunakan syi’ar Salaf,
jangan kaget jika ada orang menyapa Anda dan mengatakan, “ Anda tentu
muridnya Syaikh Muqbil!”
KESEMPATAN TIDAK DATANG BERKALI-KALI
Alhamdulillah. Negeri Yaman saat ini telah menjadi pusat destinasi
rihlah thalabul ilmi. Kemudahan demi kemudahan merupakan faktor
pendukung yang seharusnya disyukuri secara penuh. Belajar agama secara
benar di Yaman tidak di batasi oleh usia. Muda maupun tua, bahkan yang
telah sepuh pun memiliki kesempatan yang sama.
Jumlah markiz (pesantren) yang mengajarkan akidah dan manhaj Ahlus
Sunnah Wal Jama’ah sangat banyak di negeri Yaman. Ada yang bertaraf
sederhana, sedang, sampai besar. Beberapa Markiz yang tergolong besar
seperti :
1. Darul Hadits Ma’bar, pimpinan Syaikh Muhammad Al Imam
2. Darul Hadits Fuyus, pimpinan Syaikh Abdurrahman Al Adeni
3. Darul Hadits Dzammar, pimpinan Syaikh Utsman As Salimi
4. Darul Hadits Syihr, pimpinan Syaikh Abdullah Al Mar’i
Untuk belajar Salaf di Yaman tidak dipungut biaya sepeserpun untuk biaya pendidikan. Bahkan
konsumsi, asrama, dan beberapa hal lainnya digratiskan juga. Maka tidak
mengherankan jika jumlah pelajar Indonesia di Markiz-markiz Salaf Yaman
saat ini telah menembus angka 300-an. Sebagian besarnya berstatus
lajang, sementara yang telah menikah dan meninggalkan anak istri juga
tidak sedikit. Bahkan ada puluhan pelajar yang turut memboyong anak
istrinya untuk sama-sama thalabul ilmi.
Suasana dan lingkungan Yaman sangat mendukung sekali untuk
mempelajari Islam secara Intensif dan optimal. Jauh dari hiruk piruk
keduniaan dan sangat menjanjikan ketenangan. Setiap saat selalu tentram
dengan mendengarkan ayat Al Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, seta nasihat ulama. Jika sesekali suntuk atau sedang
menghadapi problem, hanya dengan sekedar duduk mendengarkan ceramah
Syaikh, semua hilang dan meleleh tak tersisa.
Sebagian pelajar mengatakan, “Rasa-rasa tidak ingin pulang ke
Indonesia. Di sini telah ku temukan hakikat ketenangan hati. Di sinilah
aku benar-benar bisa merasakan apa yang dimaksud dengan hidup bahagia
itu. Di sini telah ku temukan ketentraman jiwa.”
Semua bidang ilmu agama bisa Anda peroleh dan pelajari dengan mudah
di Markiz-markiz Salaf di Yaman. Ketersediaan pengajar dan guru seolah
tidak pernah habis. Akidah, bahasa Arab, ilmu hadits, fiqih, ushul
fiqih, Al Qur’an, maupun ilmu-ilmu lainnya tinggal Anda pilih saja.
Dijamin memuaskan! Insya Allah.
Thalabul Ilmi di Yaman memeng menjadi pilihan utama. Anda bisa
memilih Markiz sesuai dengan cuaca yang anda senangi. Makanan dan
minumannya pun mudah diadaptasikan. Proses keberangkatan dan perizinan
pun sangat ringan. Secara periodik, Bapak-bapak dari KBRI (Kedutaan
Besar Republik Indonesia) juga mengadakan silahturahmi dan kunjungan ke
Markiz-markiz Salaf.
Biaya? Murah sekali jika dibandingkan biaya yang dihambur-hamburkan
untuk sekolah maupun kuliah. Cukup dengan 18 juta Anda bisa berangkat
Thalabul Ilmi ke Yaman, kemudian pulang ke Indonesia dengan membawa
pulang ilmu bermanfaat untuk didakwahkan kepada masyarakat luas, insya
Allah.
Tertarik? Jangan tunggu lama-lama! Segeralah ambil keputusan dan jangan menunda!
[Ditulis ulang dari Majalah Qudwah, Edisi 10, hal 16-20]
Sumber artikel : kaahil.wordpress.com