Rekaman audio tabligh akbar dengan tema Cinta Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam bersama Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin
Al Badr di Masjid Istiqlal Jakarta pada Ahad, 10 Jumadits Tsaniyah 1434 H
/21 April 2013. Penerjemah kajian ini adalah Ustadz Badrusalam, dengan
muqaddimah kajian bersama ustadz Hamzah Abbas.
Silakan download pada link berikut:
DOWNLOAD CINTA RASULULLAH – SYAIKH ABDURRAZZAQ
Sumber: RadioRodja.com
Diupload ulang oleh Tim Kajian.Net
Sumber: salafiyunpad.wordpress.com
Friday, September 6, 2013
Thursday, September 5, 2013
Subhanallah atau Masya Allah, Kadang Suka Terbalik!?
Ungkapan Subhaanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, dan dengan ucapan itu kita menetapkan bahwa Allah Maha Suci dari semua keburukan tersebut.
Kebalikannya dari ucapan Maasya Allah, yang diucapkan bila seseorang melihat yang indah-indah. Penggunaan kedua kalimat ini di tengah masyarakat Islam tanah air kerap terbalik-balik, kecuali pada sebagian orang yang mengerti ajaran Sunnah ini. Wallahu’alam
Footnote: Ustadz Abu Umar Basyier di Buku Prahara Cinta hal. 173, Penerbit: Shafa Publika
Sumber: moslemsunnah.wordpress.com
Wednesday, September 4, 2013
Rukun-Rukun Shalat
Meninggalkan rukun shalat ada dua bentuk.
Pertama: Meninggalkannya dengan sengaja. Dalam kondisi seperti ini shalatnya batal dan tidak sah dengan kesepakatan para ulama.
Kedua: Meninggalkannya karena lupa atau tidak tahu. Di sini ada tiga rincian,
- Jika mampu untuk mendapati rukun tersebut lagi, maka wajib untuk melakukannya kembali. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama.
- Jika tidak mampu mendapatinya lagi, maka shalatnya batal menurut ulama-ulama Hanafiyah. Sedangkan jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa raka’at yang ketinggalan rukun tadi menjadi hilang.
- Jika yang ditinggalkan adalah takbiratul ihram, maka shalatnya harus diulangi dari awal lagi karena ia tidak memasuki shalat dengan benar.
Rukun pertama: Berdiri bagi yang mampu
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, kerjakanlah
dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu lagi, maka kerjakanlah dengan
tidur menyamping.”[1]Rukun kedua: Takbiratul ihram
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
“Pembuka shalat adalah thoharoh (bersuci). Yang mengharamkan dari
hal-hal di luar shalat adalah ucapan takbir. Sedangkan yang
menghalalkannya kembali adalah ucapan salam. ”[2]Yang dimaksud dengan rukun shalat adalah ucapan takbir “Allahu Akbar”. Ucapan takbir ini tidak bisa digantikan dengan ucapakan selainnya walaupun semakna.
Rukun ketiga: Membaca Al Fatihah di Setiap Raka’at
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak ada shalat (artinya tidak sah) orang yang tidak membaca Al Fatihah.”[3]Rukun keempat dan kelima: Ruku’ dan thuma’ninah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada orang yang jelek shalatnya (sampai ia disuruh mengulangi shalatnya beberapa kali karena tidak memenuhi rukun),
ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا
“Kemudian ruku’lah dan thuma’ninahlah ketika ruku’.”[4]Keadaan minimal dalam ruku’ adalah membungkukkan badan dan tangan berada di lutut.
Sedangkan yang dimaksudkan thuma’ninah adalah keadaan tenang di mana setiap persendian juga ikut tenang. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada orang yang jelek shalatnya sehingga ia pun disuruh untuk mengulangi shalatnya, beliau bersabda,
لاَ تَتِمُّ صَلاَةُ
أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ … ثُمَّ يُكَبِّرُ فَيَرْكَعُ فَيَضَعُ
كَفَّيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ
وَتَسْتَرْخِىَ
“Shalat tidaklah sempurna sampai salah seorang di antara kalian
menyempurnakan wudhu, … kemudian bertakbir, lalu melakukan ruku’ dengan
meletakkan telapak tangan di lutut sampai persendian yang ada dalam
keadaan thuma’ninah dan tenang.”[5]Ada pula ulama yang mengatakan bahwa thuma’ninah adalah sekadar membaca dzikir yang wajib dalam ruku’.
Rukun keenam dan ketujuh: I’tidal setelah ruku’ dan thuma’ninah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada orang yang jelek shalatnya,
ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا
“Kemudian tegakkanlah badan (i’tidal) dan thuma’ninalah.”[6]Rukun kedelapan dan kesembilan: Sujud dan thuma’ninah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada orang yang jelek shalatnya,
ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا
“Kemudian sujudlah dan thuma’ninalah ketika sujud.”[7]Hendaklah sujud dilakukan pada tujuh bagian anggota badan: [1,2] Telapak tangan kanan dan kiri, [3,4] Lutut kanan dan kiri, [5,6] Ujung kaki kanan dan kiri, dan [7] Dahi sekaligus dengan hidung.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ
عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى
أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ
“Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan:
[1] Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya),
[2,3] telapak tangan kanan dan kiri, [4,5] lutut kanan dan kiri, dan
[6,7] ujung kaki kanan dan kiri. ”Rukun kesepuluh dan kesebelas: Duduk di antara dua sujud dan thuma’ninah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى
تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ
اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا
“Kemudian sujudlah dan thuma’ninalah ketika sujud. Lalu
bangkitlah dari sujud dan thuma’ninalah ketika duduk. Kemudian sujudlah
kembali dan thuma’ninalah ketika sujud.”[8]Rukun keduabelas dan ketigabelas: Tasyahud akhir dan duduk tasyahud
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِى الصَّلاَةِ فَلْيَقُلِ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ …
“Jika salah seorang antara kalian duduk (tasyahud) dalam shalat, maka ucapkanlah “at tahiyatu lillah …”.”[9]Bacaan tasyahud:
التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ
وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ
اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“At tahiyaatu lillah wash sholaatu wath thoyyibaat. Assalaamu
‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuh. Assalaamu ‘alaina
wa ‘ala ‘ibadillahish sholihiin. Asy-hadu an laa ilaha illallah, wa
asy-hadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh.” (Segala ucapan penghormatan hanyalah milik Allah, begitu juga segala shalat
dan amal shalih. Semoga kesejahteraan tercurah kepadamu, wahai Nabi,
begitu juga rahmat Allah dengan segenap karunia-Nya. Semoga
kesejahteraan terlimpahkan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang
shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah
dengan benar selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba
dan Rasul-Nya) [10]Apakah bacaan tasyahud “assalamu ‘alaika ayyuhan nabi” perlu diganti dengan bacaan “assalaamu ‘alan nabi”?
Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah ditanya,
“Dalam tasyahud apakah seseorang membaca bacaan “assalamu ‘alaika ayyuhan nabi” atau bacaan “assalamu ‘alan nabi”? ‘Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan bahwa para sahabat dulunya sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, mereka mengucapkan “assalamu ‘alaika ayyuhan nabi”. Namun setelah beliau wafat, para sahabat pun mengucapkan “assalamu ‘alan nabi”.
Jawab:
Yang lebih tepat, seseorang ketika tasyahud dalam shalat mengucapkan “assalamu ‘alaika ayyuhan nabi wa rohmatullahi wa barokatuh”. Alasannya, inilah yang lebih benar yang berasal dari berbagai hadits. Adapun riwayat Ibnu Mas’ud mengenai bacaan tasyahud yang mesti diganti setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat –jika memang itu benar riwayat yang shahih-, maka itu hanyalah hasil ijtihad Ibnu Mas’ud dan tidak bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang ada. Seandainya ada perbedaan hukum bacaan antara sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan setelah beliau wafat, maka pasti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang akan menjelaskannya pada para sahabat.
(Yang menandatangani fatwa ini adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai Ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud dan ‘Abdullah bin Ghodyan sebagai anggota)[11]
Rukun keempatbelas: Shalawat kepada Nabi setelah mengucapkan tasyahud akhir[12]
Dalilnya adalah hadits Fudholah bin ‘Ubaid Al Anshoriy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang yang berdo’a dalam shalatnya tanpa menyanjung Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau mengatakan, “Begitu cepatnya ini.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan orang tadi, lalu berkata padanya dan lainnya,
إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد الله والثناء عليه ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بعد بما شاء
“Jika salah seorang di antara kalian hendak shalat, maka mulailah
dengan menyanjung dan memuji Allah, lalu bershalawatlah kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berdo’a setelah itu semau kalian.”[13]Bacaan shalawat yang paling bagus adalah sebagai berikut.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ
، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ
مَجِيدٌ
“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa
shollaita ‘ala Ibroohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaka hamidun majiid.
Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa barrokta ‘ala
Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohimm innaka hamidun majiid.”[14]Rukun kelimabelas: Salam
Dalilnya hadits yang telah disebutkan di muka,
مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
“Yang mengharamkan dari hal-hal di luar shalat adalah ucapan takbir. Sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam. ”[15]Yang termasuk dalam rukun di sini adalah salam yang pertama. Inilah pendapat ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan mayoritas ‘ulama.
Model salam ada empat:
- Salam ke kanan “Assalamu ‘alaikum wa rohmatullah”, salam ke kiri “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”.
- Salam ke kanan “Assalamu ‘alaikum wa rohmatullah wa barokatuh”, salam ke kiri “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”.
- Salam ke kanan “Assalamu ‘alaikum wa rohmatullah”, salam ke kiri “Assalamu ‘alaikum”.
- Salam sekali ke kanan “Assalamu’laikum”.[16]
Rukun keenambelas: Urut dalam rukun-rukun yang ada
Alasannya karena dalam hadits orang yang jelek shalatnya, digunakan kata “tsumma“ dalam setiap rukun. Dan “tsumma” bermakna urutan.[17]Semoga bermanfaat.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
[1] HR. Bukhari no. 1117, dari ‘Imron bin Hushain.
[2] HR. Abu Daud no. 618, Tirmidzi no. 3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no. 301.
[3] HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394, dari ‘Ubadah bin Ash Shomit
[4] HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397.
[5] HR. Ad Darimi no. 1329. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.
[6] Sudah disebutkan takhrijnya.
[7] Idem
[8] Idem
[9] HR. Bukhari no. 831 dan Muslim no. 402, dari Ibnu Mas’ud.
[10] HR. Bukhari no. 6265 dan Muslim no. 402.
[11] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 8571, juz 7, hal. 11, Mawqi’ Al Ifta’.
[12] Point ini adalah tambahan dari Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz, ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Kholafiy, hal. 89, Dar Ibni Rojab, cetakan ketiga, tahun 1421 H.
[13] Riwayat ini disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Fadh-lu Shalat ‘alan Nabi, hal. 86, Al Maktabah Al Islamiy, Beirut, cetakan ketiga 1977.
[14] HR. Bukhari no. 4797 dan Muslim no. 406, dari Ka’ab bin ‘Ujroh.
[15] HR. Abu Daud no. 618, Tirmidzi no. 3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no. 301.
[16] Lihat Sifat Shalat Nabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 188, Maktabah Al Ma’arif.
[17] Pembahasan rukun shalat ini banyak disarikan dari penjelasan Syaikh Abu Malik dalam kitab Shahih Fiqh Sunnah terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah.
Sumber: muslim.or.id
Tuesday, September 3, 2013
Lembut dalam Berbicara dan Menghindari Kata-Kata yang Tidak Berarti
Sesungguhnya pembicaraan
yang lembut dapat meluluhkan jiwa yang durhaka, membuatnya mendekat kepada
jalan yang benar, dan mendengarkan dalil-dalil serta nasihat.
Allah ta’ala berfirman
dalam berbicara kepada Harun ‘alaihis-salaam dan Musa ‘alaihis-salaam
:
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى * فَقُولاَ
لَهُ قَوْلاً لّيّناً لّعَلّهُ يَتَذَكّرُ أَوْ يَخْشَىَ
”Pergilah
kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka
berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut
mudah-mudahan ia ingat atau takut” [QS. Thaahaa :
43-44].
Allah ta’ala
mengajarkan Musa secara lisan tentang perkataan-perkataan yang lembut,
sebaik-baik hal yang Allah ta’ala bicarakan kepada penguasa yang lalim,
Fir’aun. Ia berkata kepada kaumnya,”Akulah
tuhan kalian yang tertinggi”. Maka Allah ta’ala berfirman :
فَقُلْ هَل لّكَ إِلَىَ أَن تَزَكّىَ * وَأَهْدِيَكَ
إِلَىَ رَبّكَ فَتَخْشَىَ
”Dan katakanlah (kepada Fir’aun) : Apakah keinginan bagimu untuk
membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabb-mu
agar supaya kamu takut kepada-Nya” [QS. An-Naazi’at : 18-19).
Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata : ”Perhatikanlah
contoh yang terdapat pada diri Musa, ketika beliau diperintahkan oleh Allah ta’ala
untuk menyampaikan perkataan kepada Fir’aun :
هَل لّكَ إِلَىَ أَن تَزَكّىَ * وَأَهْدِيَكَ
إِلَىَ رَبّكَ فَتَخْشَىَ
”….Apakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari
kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabb-mu agar supaya kamu takut
kepada-Nya” [QS.
An-Naazi’at : 18-19].
Allah ta’ala
mengungkapkan firman-Nya kepada Fir’aun dengan cara pertanyaan dan penjelasan,
bukan dengan bentuk perintah. Allah ta’ala berfirman : ”Hingga ia
menyucikan diri” (إِلَىَ أَن تَزَكّىَ ), dan tidak berfirman : ”Hingga
aku mensucikanmu”.
Allah ta’ala
mengaitkan perbuatan kepada diri-Nya dan menyebutkan kata At-Tazakky
tanpa yang lainnya karena ada padanya keberkahan, kebaikan, dan pertumbuhan.
Kemudian Allah ta’ala
berfirman [وَأَهْدِيَكَ إِلَىَ رَبّكَ ] ”Dan saya memberikan
petunjuk kepada Rabbmu”. Saya menjadi seorang petunjuk jalan bagimu yang
berjalan di depanmu. Allah ta’ala berfirman : [إِلَىَ رَبّكَ
] ”kepada Rabb-mu” sebagai panggilan iman kepada Rabb-nya. Yang
menciptakannya, memberikan rizki kepadanya, dan mendidiknya dengan segala
nikmatnya, baik kecil maupun besar”
[lihat : Badaa-i’ul-Fawaaid,
3/132-133].
Oleh karena itu,
sesungguhnya nasihat yang disampaikan dengan adab, maka akan diterima dengan
hati dengan lapang dada, jiwa akan menyambutnya, dan pendengaran pun akan
merasa tenang.
Sesungguhnya Rabb kami,
Allah ta’ala, telah memuji Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa
sallam dengan memberikan watak lemah lembut padanya dan menjadikannya
mencintai kelembutan, menjauhkan darinya kekerasan, dan ketidaksopanan.
Allah ta’ala berfirman
:
وَلَوْ كُنْتَ
فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ
وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ
”….Sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu……..” [QS. Aali Imraan : 159].
Sesungguhnya perjalanan
beliau Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam penuh dengan
sifat-sifat mulia dan luhur seperti ini. Siapa saja yang dapat memilikinya,
maka ia akan menguasai hati dan meluluhkannya. Sebagaimana Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam telah mempraktekkan sifat yang satu ini, beliau juga
telah memerintahkan agar sifat ini dikerjakan oleh setiap muslim dan beliau telah
menjelaskan keutamaannya.
Beliau shallallaahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
يا عائشة إن
الله رفيق يحب الرفق ويعطى على الرفق ما لا يعطى على العنف وما لا يعطى على ما
سواه
”Wahai ‘Aisyah,
sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai kelembutan. Dan Dia akan memberikan
sesuatu dengan kelembutan apa yang tidak diberikannya dengan kekerasan dan
tidak pula diberikan dengan yang lainynya” [HR. Muslim no. 2593].
Dalam sabdanya yang lain :
إن الرفق لا
يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه
”Sesungguhnya kelembutan
itu tidak berada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidak dihilangkan
darinya kecuali akan menghinakannya” [HR. Muslim no. 2594].
Ketika beliau shallallaahu
‘alaihi wa sallam mengutus Abu Musa Al-Asy’ary dan Mu’adz radliyallaahu
‘anhuma ke Yaman, beliau berkata kepada keduanya :
يسرا ولا
تعسرا وبشرا ولا تنفرا وتطاوعا ولا تختلفا
”Permudahlah jangan persulit,
berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari. Bersatulah dan jangan berseleisih” [HR. Al-Bukhaariy no. 6124 dan Muslim no. 1733].
Imam Ahmad rahimahullah
berkata : ”Beliau memerintahkan kepada kelembutan dan ketundukan, sehingga
apabila mereka memperdengarkan kepadanya apa yang dibencinya, maka ia tidak
akan marah, karena beliau ingin menguasai dirinya” [Jaami’ul ‘Ulum wal-Hikam,
2/456].
Sesungguhnya sangatlah
baiklah orang yang bersenandung (sya’ir) :
لو سار ألف مدجج في حاجة ** لم يقضها إلا الذي
يترفق
“Seandainya seribu landak
berjalan untuk memenuhi kebutuhannya, ia tidak akan memenuhinya kecuali yang
berjalan dengan kelembutan” [Raudlatul-‘Uqalaa’, hal. 216].
Pernah dikatakan : “Barangsiapa
yang ucapanya lembut, maka wajiblah baginya dicintai” [Al-Bayaan wat-Tabyiin
oleh Al-Jahizh].
Kelembutan dan kehalusan
percakapan adalah merupakan hal yang harus diwujudkan saat memberi nasihat. Dan
hal tersebut lebih pantas menjadi watak dari seorang pemberi nasihat, karena
saat menasihati berbeda dengan saat membantah, perdebatan, dan diskusi.
Namun, selain itu ia juga
terkadang memerlukan ketegasan. Dan itupun dalam kondisi-kondisi tertentu,
untuk orang-orang tertentu pula, dan bagi orang yang berhak untuk
mendapatkannya. Apabila seorang pemberi nasihat mempunyai kedudukan dan
kondisinya meminta untuk memberikan nasihat dengan ketegasan dan tidak
mengakibatkan kemudlaratan setelahnya, maka ia harus melakukan cara tersebut.
Oleh karena itu Musa ‘alaihis-salaam
bersikap sangat lemah lembut terhadap Fir’aun pada awal-awal dakwahnya
kepadanya – seperti yang baru saja berlalu ---.
Namun ketika ia melihat Fir’aun tidak menghiraukan dan bersikap sombong
serta berusaha menghalangi petunjuk Musa ‘alaihis-salaam kepada kaumnya
setelah petunjuk tersebut jelas bagi mereka, maka Musa ‘alaihis-salaam
bersikap keras dan tegas dalam dakwahnya seperti firman Allah ta’ala :
وَإِنّي لأظُنّكَ يَفِرْعَونُ مَثْبُوراً
”…Dan sesungguhnya aku
mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa” [QS. Al-Israa’ : 102].
Bagaimanakah dengan
pembicaraan ini dibanding dengan percakapan yang pertama ? Seperti halnya
firman Allah ta’ala :
وَلاَ تُجَادِلُوَاْ أَهْلَ الْكِتَابِ إِلاّ
بِالّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلاّ الّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ
”Dan janganlah kamu
berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik. Kecuali
dengan orang-orang dhalim diantara mereka….” [QS. Al-Ankabuut : 46].
Dan juga perkataan Ibrahim ‘alaihis-salaam
kepada kaumnya :
أُفّ لّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ
أَفَلاَ تَعْقِلُونَ
”Ah (celaka) kamu dan apa
yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” [QS. Al-Anbiyaa’ : 67].
Bahwasannya Nabi kita pun,
Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, memakai cara-cara seperti ini
apabila dibutuhkan. Diantaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
dan Muslim dalam sebuah kisah seorang perempuan dari suku Makhzum yang telah
mencuri. Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa : Bahwasannya suku Quraisy
sangat terganggu dengan kejadian seorang perempuan dari suku Makhzum yang
mencuri. Mereka berkata : ”Siapakah yang akan berbicara kepada Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam tentang masalah ini?” Dan siapakah yang berani kecuali
Usamah, kecintaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Maka ia
berbicara kepada beliau, lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda kepadanya : ”Apakah kamu akan memberi syafa’at pada hukum-hukum
Allah?”. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan
berkhutbah pada masyarakat lalu bersabda :
”Wahai manusia,
sesungguhnya hal yang menyesatkan orang-orang terdahulu adalah apabila seorang
yang mulia mencuri maka mereka akan membiarkannya. Dan apabila orang yang lemah
mencuri, maka mereka melaksanakan hukuman kepadanya. Demi Allah, seandainya
Fathimah binti Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam mencuri, maka Muhammad
sendiri yang akan memotong tangannya” [HR. Al-Bukhaariy no. 6788 dan Muslim no. 2648].
Dalam Shahiih Al-Bukhaariy
dan Shahiih Muslim dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu
bahwasannya ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
:
ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء ولو
يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوا لقد هممت أن آمر المؤذن فيقيم ثم آمر رجلا يؤم
الناس ثم آخذ شعلا من نار فأحرق على من لا يخرج إلى الصلاة بعد
”Tidak ada shalat yang
paling berat bagi orang-orang yang munafiq kecuali shalat shubuh dan ‘isya’.
Seandainya mereka mengetahui (ganjaran) apa yang ada dalam keduanya, maka
niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak. Sesungguhnya aku
ingin untuk menyuruh muadzdzin untuk melakukan iqamat dan menyuruh seseorang
menjadi imam shalat yang menggantikanku, lalu aku membawa api dan membakar
mereka yang belum keluar melakukan shalat jama’ah di masjid” [HR. Al-Bukhaariy no. 657 dan Muslim no. 651].
Sesungguhnya Imam Al-Bukhaariy
telah membuat suatu bab dalam kitab Al-Adab dari Shahiih-nya,
yang ia namakan : “Bab Maa Yajuuzu minal-Ghadlabi wasy-syiddati li
amrillaahi” (Bab : Bolehnya Seseorang untuk Marah dan Bersikap Keras dalam
Menegakkan Perintah Allah ta’ala). Lalu menyebutkan di dalamnya lima hadits.
Rangkuman masalah tersebut
adalah bahwasannya kelembutan merupakan dasar. Ia merupakan hal yang paling
sesuai dengan sikap pemberi nasihat selama kekerasan belum dibutuhkan. Dan
kekerasan tidak selamanya cocok dengan setiap orang, khususnya mereka yang
tidak memiliki umum yang lebih tua, ilmu, kedudukan, atau penerimaan dari
masyarakat.
Allahu a’lam.
Sumber: abul-jauzaa.blogspot.com
Monday, September 2, 2013
[Download] Kalender 2013 Lengkap Dengan Libur Nasional, Cuti Bersama dan Penanggalan Hijriah 1434-1435 H
[Download] Kalender 2013 Lengkap Dengan Libur Nasional, Cuti Bersama dan Penanggalan Hijriah 1434-1435 H
Dengan catatan bahwa penanggalan hijriyah dalam kalender ini hanya pendekatan saja berdasarkan Taqwim Ummul Quro, sehingga mungkin saja terjadi perbedaan dengan penampakan hilal di Indonesia.
Silahkan download (klik sesuai ukuran > save image as)…
Ket:
Tanggal merah : libur nasional/hari ahad
Tanggal ungu : cuti bersama

Kalender 2013_bright
Ukuran: [1366x768] [1280x800]
***

Kalender 2013_Purple
Ukuran: [1366x768] [1280x800]
***
_____________
Referensi:
KALENDER 2013 DENGAN LIBUR NASIONAL, CUTI BERSAMA & PENANGGALAN HIJRIAH 1434 – 1435 H
Di bawah ini ada kalender 2013 buatan zauji beserta penanggalan hijriyah 1434-1435 H lengkap dengan libur nasional & cuti bersama dengan dua ukuran gambar yang pas untuk kebanyakan desktop wallpaper: 1366×768 dan 1280×800 pixels.Dengan catatan bahwa penanggalan hijriyah dalam kalender ini hanya pendekatan saja berdasarkan Taqwim Ummul Quro, sehingga mungkin saja terjadi perbedaan dengan penampakan hilal di Indonesia.
Silahkan download (klik sesuai ukuran > save image as)…
Ket:
Tanggal merah : libur nasional/hari ahad
Tanggal ungu : cuti bersama
Kalender 2013_bright
Ukuran: [1366x768] [1280x800]
***
Kalender 2013_Purple
Ukuran: [1366x768] [1280x800]
***
_____________
Referensi:
- Keputusan Pemerintah Tentang Libur Nasional & Cuti bersama 2013
- Penanggalan Hijriyyah (Taqwim Ummul Quro)
- http://ummushofi.wordpress.com/2012/12/03/download-kalender-2013-lengkap-dengan-libur-nasional-cuti-bersama-dan-penanggalan-hijriah-1434-1435-h/
Subscribe to:
Posts (Atom)
About us




